Arung Palakka, Pahlawan Bone yang Dicap Pengkhianat

Arung Palakka adalah Sultan Bone yang menjabat pada 1672 hingga 1696. Dia lahir pada 15 September 1634. Ia adalah putra Raja Bone ke-XIII La Maddaremmeng Matinro’e Ri Bukaka.

Saat masih berkedudukan sebagai pangeran, Arung Palakka (juga disebut Aru Palakka) memimpin kerajaannya meraih kemerdekaan dari Kesultanan Gowa pada 1666. Arung Palakka pula yang menjadikan Bugis sebagai kekuatan maritim besar bekerja sama dengan Belanda dan mendominasi kawasan tersebut selama hampir seabad.

Sosoknya kerap dianggap sebagai pemberontak dan pengkhianat karena Arung Palakka bekerja sama dengan VOC. Pada masa pemerintahan ayahnya, Kerajaan Bone ditaklukkan oleh Kerajaan Gowa dan statusnya tidak lagi menjadi kerajaan yang merdeka.

Tidak hanya itu, raja beserta keluarganya dibawa ke Makassar sebagai tahanan dan diperlakukan seperti budak. Keluarganya dipekerjakan sebagai pelayan di istana Karaeng Pattingalloang, mangkubumi Kerajaan Gowa.

Kala itu, Palakka berusia 11 tahun. Sang pangeran sudah menjadi tawanan Kesultanan Gowa di Makassar. Sebagai tawanan, ruang geraknya sangatlah terbatas. Hatinya berontak, impian untuk bisa melepaskan diri dari kekuasaan Gowa selalu tertanam di hati dan pikirannya.

Akhirnya cita-cita itu bisa terwujud meskipun dengan pertaruhan yang amat besar. Arung Palakka terpaksa bekerjasama dengan Belanda membebaskan rakyat Bone dari penjajahan Gowa. Karena sikap nya berkomplot dengan Belanda, citra Arung Palakka hingga kini disebut sebagai pahlawan sekaligus menjadi pengkhianat.

Dilema Sang Pangeran

Arung Palakka adalah putra Raja Bone ke-XIII La Maddaremmeng Matinro’e Ri Bukaka. Kendati menyandang status pangeran, Arung Palakka tak bisa menikmati hidup enak. Dia terlahir dalam suasana konflik antar-kerajaan di Sulawesi Selatan. Polemik tersebut sebenarnya terjadi jauh sebelum Arung Palakka dilahirkan.

Baca: Akhir Hidup Jaka Tingkir Perang dengan Anak Angkatnya Sutawijaya

Ada empat 4 kerajaan yang terlibat, yaitu Bone, Soppeng, Wajo, dan Gowa-Tallo. Dari semua itu, Gowa-Tallo adalah kerajaan yang paling berpengaruh dan bernafsu untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Puncak pertikaian terjadi saat Gowa-Tallo resmi menjadi kerajaan Islam pada 1605.

Ada empat 4 kerajaan yang terlibat, yaitu Bone, Soppeng, Wajo, dan Gowa-Tallo. Dari semua itu, Gowa-Tallo adalah kerajaan yang paling berpengaruh dan bernafsu untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Puncak pertikaian terjadi saat Gowa-Tallo resmi menjadi kerajaan Islam pada 1605.

Seperti dicatat dalam Sejarah Nasional Indonesia, Volume 3 (2008), Kerajaan Gowa memaksa tiga kerajaan lain untuk menganut agama yang sama sekaligus meluaskan pengaruh politiknya. Bone yang berpuluh-puluh tahun sebelumnya cukup merepotkan Gowa akhirnya harus menyerah pada 1611.

Sejak saat itu, Bone ikut menganut Islam dan menjadi taklukan Gowa. Meskipun begitu, kedudukan raja Bone masih diakui dan sempat dimerdekakan kendati rangkaian konflik masih saja terjadi di era-era setelahnya.