Ernest Douwes Dekker, Keturunan Eropa yang Meresahkan Hindia-Belanda

Pada tahun 1912, Ernest Douwes Dekker bersama Suwardi Suryaningrat dan dr. Cipto Mangunkusumo mendirikan partai politik pertama yang diberi nama Indische Partij. Ketiga tokoh ini pun disebut sebagai Tiga Serangkai.

Dikutip dari direktoratk2krs.kemsos.go.id, Indiesche Partij mempropangandakan cita-cita kemerdekaan sehingga memiliki banyak anggota sampai sekitar 7.500 orang dari 30 cabang. Indische Partij kemudian dibubarkan Belanda pada Maret 1913.

Baca: Hukuman Mati Raden Trunojoyo Akibat Memberontak Mataram

Douwes Dekker dibuang ke Belanda karena menentang perayaan 100 tahun Belanda merdeka dari Prancis di Hindia Belanda. Di Belanda, Douwes Dekker belajar ilmu ekonomi sambil bergabung dengan Indiesche Vereeniging (Perhimpunan Indonesia). Kemudian ia mendirikan National Indische Partij pada 1919.

Douwes Dekker juga membangun School Vereeniging Het Ksatrian Instituut atau yang disingkat Ksatrian Institut. Sayangnya, dia harus terkena larangan mengajar karena menulis sebuah materi sejarah antikolonialisme. Tidak cukup sampai di situ, ia kemudian ditangkap dan diasingkan ke Suriname oleh pemerintah Belanda pada 1941 karena tuduhan kaki tangan Jepang.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Ernest Douwes Dekker pulang ke Indonesia dan kembali mengabdikan diri untuk Tanah Air. Dalam Kabinet Syahrir III, ia diangkat menjadi Menteri Negara dan juga sebagai penasihat delegasi RI dalam perundingan-perundingan dengan Belanda

Namun, lagi-lagi ia kembali ditangkap Belanda karena Agresi Militer II. Setelah bebas, Ernest Douwes Dekker menetap di Bandung hingga akhir hayatnya. Ia meninggal pada 28 Agustus 1950 dan dimakamkan di TMPN Cikutra Bandung.

Atas jasa-jasa dan perjuangannya, Ernest Douwes Dekker ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1961, berdasarkan SK Nomor 590 Tahun 1961, tertanggal 9 November 1961.