Jelajah Ruang dan Waktu Dengan Kitab-kitab Klasik di joglo Ki Penjawi

Malam itu saya serasa memasuki dimensi waktu yang berbeda, lorong waktu telah mengantarkan pada situasi dimana raga saya berada di zaman era digital namun imajinasi saya berada di zaman ketika syiar Agama Islam tengah massif dilakukan dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan oleh para ulama Nusantara.

Malam itu mesin waktu telah diciptakan oleh lembaran demi lembaran kitab kitab kuno koleksi Pak Gunawan Herdiyanto pemilik Joglo Resto Ki Penjawi yang beralamat Jl. Ki Penjawi  No. 14 Salatiga. Jawa Tengah.

Resto unik yang berdiri diatas bangunan dan ruangan berarsitektur etnik Jawa total berbahan konstruksi dominan dari kayu jati yang dilengkapi dengan ragam furnitur dan ornamen hiasan dinding berupa topeng maupun pernak pernik property Jawa tempo dulu adalah tempat dimana saya menghabiskan malam itu bersama para Masyayikh mempelajari kitab kitab klasik karya para ulama Nusantara

Alunan klonengan langgam Jawa mengalun berkolaborasi dengan bunyi rintik hujan yang jatuh di pelataran bangunan diikuti kepekatan malam berkabut yang lindap bersama harum aroma minyak hajar aswad, maka malam itu benar benar telah membawa kami untuk melesat jauh memasuki dimensi ruang dan waktu.

Kitab yang tengah di baca adalah kitab kitab kuno yang telah berusia ratusan tahun dimana secara fisik kitab kitab tersebut sebagian berbahan olahan kulit domba atau hewan sejenis dan sebagian lainnya berbahan kertas kuno, warnanya kuning kecoklat cokatan yang telah tertaburi jamur jamur secara alami. Sepintas tinta yang tergores dalam kitab tersebut berwarna hitam namun ada yang sudah kabur hingga menjadi keabu abuan, media tulisan itu terasa sedikit keras namun sebagian tampak lebih tajam, hal yang menandakan jika proses penulisan pada saat itu benar benar secara manual dan pengerjaan penulisan tidak dalam waktu yang bersamaan namun bertahap dalam rentang waktu yang cukup lama.

Dilihat dari model bentuk chord yang tidak konsisten dan goresan tinta yang dinamis menandakan pula jika kitab ini ditulis mengikuti mood dan suasana batin penulisnya waktu itu.
Hampir keseluruhan kitab kitab tersebut sudah sedemikian usang sehingga harus ekstra hati hati didalam membuka satu persatu halamanannya, jamur jamur yang melekat pada tiap halaman menjadikan lengket, jika tidak hati hati maka bisa membuat rusak atau robek kitab yang berbahan kertas.

Malam itu saya ikut membuka kitab kitab klasik tersebut dalam rangka ndereake – ngestoake (mengikuti) Poro Kyai dari PCNU Kota Salatiga yaitu Romo Yai Sumyani Aziz, beliau adalah Kyai yang telah meneguk secara tuntas ilmu dari Poro Masyayikh di Ponpes Al Falah Ploso Kediri maupun berbagai pondok pesantren di tanah Jawa, karenanya beliah dipandang telah cukup memiliki kepakaran dibidang kitab kitab klasik.

Simbah Yai Mohammad Nashihun Pengasuh Pondok Pesantren Al Salafiyah NU Blotongan Salatiga yang diketahui dahulu telah malang melintang nyantri di berbagai Pondok Pesantren di talatah bang Wetan atau Jawa Timur, ada juga Kyai Haji Doktor Miftahudin, MA yang memiliki rekam jejak sebagai seorang santri namun kini beraktifitas sebagai seorang Akademisi pengajar program pasca Sarjana IAIN Salatiga sekaligus aktif diberbagai lembaga profesional yang konsen masalah diskursus Islam Nusantara serta ada pula Sahabat Anshor Aditya Cahyo Putro yang dahulu seorang aktifis Mahasiswa dan sekarang aktif sebagai pegiat pada Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul (LPBHNU) Kota Salatiga.

Lembaran lembaran kitab yang dibaca oleh para Kyai tersebut menghasilkan diskusi tentang prediksi tentang sirah, kontent maupun hardware dari pada kitab kitab tersebut, pak Gunawan Herdiyanyo selaku pemilik mengawali dengan  mereferensikan kisah bagaimana dahulu kitab kitab tersebut diperoleh yaitu dengan cara yang cukup mengharu biru karena melalui proses yang melibatkan pengalaman spiritualitas.

Menulis kitab merupakan salah satu upaya intelektual dari para ulama terdahulu, yang dilakukan dalam rangka mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi selanjutnya. Dalam proses penulisanya maka diyakini para Ulama tersebut kerap melakukan ikhtiar batin atau laku spiritual dengan sangat istiqomah dan berkelanjutan dalam waktu waktu tertentu.

Dari telaah Romo Yai Sumyani Aziz setelah membuka lembaran demi lembaran kitab tersebut maka kita jadi mengetahui jika dahulu ketika ulama menulis kitab maka memerlukan syarat berupa Ilmu syar’i yang merupakan jalan panjang yang tidak mudah terwujud dengan baik kecuali dengan meninggalkan perkara yang sia-sia lagi melalaikan, serta harus mampu menangggalkan kesenangan syahwat belaka, sehingga ulama yang hendak menulis kitab haruslah ikhlas dalam menuntut ilmu, mencari keridhaan dan kecintaan Allah serta Ar-Rifqu (lembut, tidak terburu-buru, tapi bertahap).

Selain dari pada itu dalam penulisan kitab maka ulama dahulu selalu memperhatikan aspek manhaj atau metodolodi yang benar, hal yang dimaksudkan adalah untuk menjaga konsistensi dalam menulis sehingga tidak berhenti di tengah jalan.

Syarat penguasaan ilmu syar’i dan manhaj oleh ulama dahulu merupakan salah satu kiat untuk menghasilkan karya kitab yang memiliki kandungan isi yang bermanfaat fidunya wal akhiroh karenanya dalam  aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ulama penghasil kitab kitab dimaksud mcendapatkan Taufiq dari Allah SWT dengan sebutan Aimmatul Huda yaitu para imam yang mengajarkan petunjuk Allah SWT.

Setelah secara seksama membuka lembaran lembaran kitab maka selanjutnya Simbah Yai Mohammad Nashikun melengkapi penjelasan yaitu untuk proses penulisan kitab kitab oleh para ulama maka memerlukan laku spritual panjang yang disebut dengan Riyadloh atau tirakat sebagai ajang pelatihan  hawa nafsu seseorang.

Tirakat berarti meninggalkan ragam kenikmatan-kenikmatan dunia seperti nikmat kenyang, nikmat tidur maupun nikmat kesenangan duniawi dengan menjalankan Riyadloh maka dapat melatih hawa nafsunya untuk semakin mudah menjalankan tujuan secara istiqomah, qonaah, ikhlas, syukur, zuhud, dan wirai.