Tragedi Cinta Nyai Dasima dan Bujukan Berbalut Agama

“O, kalaoe begitoe Baba boedjoek kawin sama saja maoe rampok saja poenja barang? Baik! Saja bisa tjari saja poenja barang! Nanti saja djato di kakinya Toean W boeat mendapat toeloengan dari Hakim,” tanggap Dasima ke Samiun.

Samiun lantas mencoba menutupi lagi motif ekonomi di balik bujukan berbau agama ke Dasima hingga berujung ke pernikahan itu. Namun kata-kata terlanjur meluncur bak anak panah. Sulit untuk menangkap kembali anak panah itu. Dia hanya bisa meminta maaf ke Dasima.

Samiun merasa terancam karena Dasima hendak melaporkan perkara ini ke aparat yang dekat dengan Tuan W. Bila perkara ini sampai ke pengadilan, maka Samiun bisa-bisa dihukum oleh aparat. Apalagi Samiun juga bekerja sebagai penadah barang curian.

Samiun kalap. Untuk menyelamatkan dirinya sekaligus menguasasi harta Dasima, dia merencanakan perbuatan jahat: membunuh Dasima. Sebenarnya dia sempat galau, namun, dalam cerita itu, dia mendapat nasihat dari seorang Haji bernama Salihun, dosa membunuh manusia bisa dihapus lewat ibadah haji ke Makkah. Beres lah!

Belakangan pakar sastra Universiti Malaya, Umar Junus, dalam laporan berjudul ‘Nyai Dasima and The Problem of Interpretation: Intertextuality, Reception Theory and New Historicism’, menyebut penulis novelet, G Francis, seorang keturunan Inggris yang kemudian ikut bekerja di pemerintahan Belanda. Novelet karya G Francis sangat kental bernuansa kolonialisme yang anti-pribumi, bahkan anti-Islam.

Kembali ke cerita, Samiun lalu berkoordinasi dengan preman Kwitang bernama Puasa (Poeasa/Puase), duit 100 pasmat dijanjikan Samiun sebagai upah untuk Puasa yang disuruhnya menghabisi nyawa Dasima.

Skenario pembunuhan dijalankan: Nyai Dasima diajak keluar rumah pada malam hari untuk mendengar hikayat Amir Hamzah di Kampung Ketapang. Malam hari, dia dituntun oleh cahaya obor yang dibawa pembantu bernama Kuntum, diikuti Samiun, Dasima, dan paling belakang ada Puasa.

Sesampainya di tempat sepi belakang rumah Mak Musanip di pinggir kali, kepala Dasima dipukul oleh Puasa, lehernya digorok, mayatnya dihanyutkan ke kali. Saat itu, ada anak Mak Musanip dan istrinya yang menyaksikan peristiwa pembunuhan itu.

Mayat Dasima ditemukan oleh pembantu dari Tuan W saat hendak memandikan Nanci. Pembantu itu lantas melapor Tuan W yang akhirnya melapor ke polisi. Dilihatnya mayat yang tersangkut di tangga dekat kali tempat mandi keluarga Tuan W. Ternyata mayat itu adalah mayat Dasima, mantan belahan jiwanya.

Singkat cerita, para pelaku pembunuhan ditangkap polisi berkat kesaksian anak Mak Musanip serta menantunya yang melihat pembunuhan itu.