Demang Lehman, Pahlawan Tanpa Kepala Panglima Perang Banjar

Perang Banjar (1859-1905) memunculkan sejumlah panglima perang, salah satunya Demang Lehman. Demang Lehman lahir di Barabai tahun 1832. Nama kecilnya, Idies. Gelar Kiai Demang merupakan gelar untuk pejabat yang memegang sebuah lalawangan (distrik) di Kesultanan Banjar.

Awalnya, Demang Lehman adalah seorang panakawan (ajudan) dari Pangeran Hidayatullah II sejak tahun 1857. Pangeran Hidayatullah II adalah seorang pemimpin Perang Banjar yang pada tahun 1999 dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Karena kesetiaan, kecakapan, dan besarnya jasa sebagai panakawan Pangeran Hidayatullah II, Demang Lehman diangkat menjadi Kiai sebagai lalawangan/kepala Distrik Riam Kanan (tanah lungguh Pg. Hidayatullah II).

Saat awal Perang Banjar, sekitar akhir April 1859, Demang Lehman memimpin kekuatan dan penggempuran di sekitar Martapura dan Tanah Laut, bersama-sama Kiai Langlang dan Penghulu Haji Buyasin.

Selanjutnya, Demang Lehman diperintahkan mempertahankan Kota Martapura, karena pusat pemerintahan kerajaan dipindahkan ke Kota Karang Intan oleh Pangeran Hidayat.

Pada tanggal 30 Agustus 1859, Demang Lehman berangkat menuju Keraton Bumi Selamat dengan 3.000 pasukan. Serangan tiba-tiba itu mengejutkan Belanda. Bahkan, Letnan Kolonel Boon Ostade nyaris tewas. Namun, serbuan ini gagal karena berhadapan dengan pasukan Belanda yang sedang berkumpul melakukan inspeksi senjata.

Sementara itu, kapal perang Bone dikirim Belanda ke Tanah Laut untuk merebut kembali Benteng Tabanio yang telah dikuasai Demang Lehman dalam sebuah pertempuran.

Ketika pasukan Letnan Laut Cronental menyerbu Benteng Tabanio, sembilan orang serdadu Belanda tewas. Sisanya mengundurkan diri dengan menderita kekalahan.

Serangan kedua dilakukan oleh Belanda. Namun, benteng itu dipertahankan dengan gagah berani oleh Demang Lehman, Kiai Langlang, dan Penghulu Haji Buyasin.

Karena serangan serdadu Belanda didukung oleh angkatan laut yang menembakkan meriam dari kapal perang, sedangkan pasukan darat menyerbu Benteng Tabanio, Demang Lehman berserta pasukannya lolos dengan tidak meninggalkan korban.

Belanda menilai bahwa kemenangan terhadap Benteng Tabanio ini tidak ada artinya. Jumlah sarana yang dikerahkan, 15 buah meriam dan sejumlah senjata yang mengkilap, ternyata tidak berhasil melumpuhkan kekuatan Demang Lehman.