Selanjutnya, Demang Lehman memusatkan kekuatannya di benteng pertahanan Gunung Lawak di Tanah Laut. Benteng itu terletak di atas bukit. Di setiap sudut benteng dipersenjatai dengan meriam.

Pada 27 September 1859, terjadi pertempuran memperebutkan benteng ini. Dalam pertempuran yang sengit, pasukan Demang Lehman mempertahankan Benteng Gunung Lawak dengan gagah berani. Lebih dari 100 pasukannya gugur dalam pertempuran ini.

Kekalahan ini tidak melemahkan semangat pasukan Demang Lehman. Mereka yakin bahwa berperang melawan Belanda adalah perang sabil. Mati dalam perang adalah mati syahid.

Pada September 1859 pula, Demang Lehman bersama pimpinan lainnya seperti Pangeran Muhammad Aminullah dan Tumenggung Jalil berangkat menuju Kandangan untuk merundingkan bentuk perlawanan terhadap Belanda. Pertemuan menghasilkan kesepakatan menolak tawaran Belanda untuk berunding.

Para pejuang tersebut bersumpah mengusir penjajah Belanda dari Bumi Banjar. Mereka akan berjuang tanpa kompromi, Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing, berjuang sampai titik darah penghabisan.

Di sisi lain, untuk melumpuhkan perjuangan rakyat, Belanda mendirikan sejumlah benteng. Di daerah Tapin, ada Benteng Munggu Tayor yang telah direbut dari pasukan Demang Lehman.

Di daerah Kandangan, didirikan pula Benteng Amawang. Demang Lehman dan pasukannya merencanakan untuk menyerang benteng Belanda di Amawang ini.

Demang Lehman berhasil menyelundupkan dua orang kepercayaannya ke dalam benteng sebagai pekerja Belanda. Dengan informasi dari kedua pekerja ini, Demang Lehman bertekad menyerbu benteng tersebut. Namun, pihak Belanda memperoleh informasi bahwa rakyat telah berkumpul di Sungai Paring hendak menyerbu Benteng Amawang.

Pasukan Belanda di bawah pimpinan Munters membawa 60 orang serdadu dan sebuah meriam menuju Sungai Paring. Saat pasukan tersebut keluar dan diperkirakan sudah mencapai Sungai Paring, Demang Lehman menyerbu Benteng Amawang pada tanggal 31 Maret 1860. Dia membawa 300 pasukan.

Ketika pasukan Demang Lehman menyerbu, kedua orang kepercayaan yang menjadi buruh dalam benteng tersebut mengamuk dan menjadikan serdadu Belanda menjadi kacau dibuatnya. Kedua orang yang mengamuk tersebut tewas dalam benteng. Pasukan Munters ternyata kembali ke benteng sebelum sampai di Sungai Paring.

Datangnya bantuan kekuatan ini menyebabkan Demang Lehman dan pasukannya mundur. Demang Lehman mundur di sekitar Sungai Kupang dan Tabihi bersama Pangeran Muhammad Aminullah dan Tuan Said. Pasukan Belanda menyusul ke Tabihi dan terjadilah pertempuran. Dalam pertempuran itu, komandan pasukan Belanda Van Dam van Isselt tewas dan beberapa orang serdadu menjadi korban keganasan perang.

Demang Lehman meneruskan ke daerah Barabai, membantu pertahanan Pangeran Hidayatullah. Gustave Marie Verspijck, jenderal Belanda yang memimpin berbagai ekspedisi militer di Hindia-Belanda, berusaha keras untuk menghancurkan kekuatan Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman.

Ratusan serdadu dikerahkan oleh Gustave Marie Verspijck. Pengepungan terhadap kedudukan Pangeran Hidayatullah ini disertai pula kapal-kapal perang Suriname, Bone, Bennet, dan beberapa kapal kecil. Kapal-kapal perang ini pada tanggal 18 April 1850 memasuki Sungai Ilir Pamangkih.

Karena banyak rintangan, serdadu Belanda terpaksa menggunakan perahu-perahu. Iringan perahu ini mendapat serangan dari kelompok Haji Sarodin yang menggunakan lila dan senapan lantakan. Dalam pertempuran ini Haji Sarodin tewas, tetapi dia berhasil menewaskan beberapa serdadu Belanda.

Pertempuran terjadi pula di Walangku Kasarangan dan Pantai Hambawang. Demang Lehman dan Pangeran Hidayatullah. Karena jumlah personel Belanda lebih besar dan perlengkapan perang lebih unggul, diambil suatu siasat mundur. Pangeran Hidayatullah mundur ke Aluwan, sedangkan Demang Lehman bertahan di Kampung Pajukungan. Akhirnya Belanda berhasil menduduki Barabai.

Bagikan:

Tags:

Leave a Comment