Korban Tim Mawar yang Kini Menjadi Anggota DPR, BPK, hingga Masih Hilang

Tim Mawar kembali menjadi buah bibir lewat Keputusan Presiden (Keppres) Jokowi Bernomor 166/TPA/Tahun 2020. Dua mantan anggota Tim Mawar ditunjuk menjadi anak buah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, sosok yang menjadi Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) saat Tim Mawar dibentuk tahun 1997.

Di antara mereka, ada yang menjadi anggota dewan hingga duduk di lembaga pemerintahan. Namun ada pula yang hingga hari ini masih hilang.

Tim Mawar dibentuk dari Grup IV (Sandi Yudha)/Kopassus.

Saat itu, Komandan Grup IV/Kopassus adalah Kolonel Chairawan. Adapun Komandan Jenderal Kopassus adalah Brigjen Prabowo Subianto. Mayor Inf Bambang Kristiono (saat ini Wakil Ketua Komisi I DPR) menjadi komandan Tim Mawar. Buat apa sih Tim Mawar dibentuk?

“Targetnya jelas: memburu dan menangkapi aktivis radikal,” tulis Femi Adi Soempeno di buku ‘Prabowo: Dari Cijantung Bergerak ke Istana’.

Tim Mawar dibentuk di ujung era pemerintahan Presiden Soeharto. Saat itu, marak sekali demonstrasi dan perlawanan rakyat. Aparat mempersepsikan para aktivis pro-demokrasi sebagai orang-orang radikal.

Baca: Sembilan Istri Soekarno, Tujuh Diantaranya Diceraikan, Simak Kisah Cintanya

Total ada 9 orang aktivis pro-demokrasi yang diculik. Ada pula 14 orang lain yang hingga kini masih hilang. Berikut adalah kabar mereka kini:

Haryanto Taslam: Berlabuh di Gerindra hingga tutup usia

Haryanto adalah pengurus pusat PDI pro Mega. Pada 8 Maret 1998, Haryanto yang sedang mengendarai mobil tiba-tiba dipepet dan ditabrak oleh mobil lain di pintu TMII, Jakarta Timur. Orang dari mobil yang menabraknya keluar dan menutup mata Haryanto, tangan Haryanto juga diborgol. Dia diinterogasi dan disekap 40 hari, dibebaskan pada 17 April 1998.

Haryanto pindah haluan parpol. Dia gabung dengan Partai Gerindra tahun 2009, aktivis ’98 terkejut lantaran persepsi saat itu menganggap aktivis ’98 tentu bermusuhan dengan Cendana dan Prabowo. 2012, Haryanto menjadi anggota dewan pembina Partai Gerindra.

14 Maret 2015, Harynto mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Medistra, Jakarta.

Desmond: Gerindra, Pimpinan Komisi III DPR

Dikutip dari ‘Penculikan dan Penghilangan Paksa’ koleksi Pusat Dokumentasi ELSAM, Desmond Junaidi Mahesa diculik pada 3 Februari 1998. Saat itu dia adalah pengacara dan Ketua LBH Nusantara cabang Jakarta.

Di depan kantor Departemen Pertanian Salemba, Desmond ditodong pistol, dimasukkan ke mobil, dan kepalanya ditutup dengan tas hitam, dan ditelungkupkan. Dia dimasukkan ke ruang gelap, diinterogasi, dipukuli, ditendang, disetrum, dan direndam dalam bak mandi. Pada 3 April 1998, dia dibebaskan.

Tahun 2009, Desmond terpilih menjadi anggota DPR dari Partai Gerindra, partai besutan Prabowo Subianto. Kini dia menjadi Wakil Ketua Komisi III DPR. Posisi terbaru di Gerindra, Desmond menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina.

Pius Lustrilanang: Anggota BPK

 

Saat 1998, Pius Lustrilanang adalah aktivis dari Aliansi Demokrasi Rakyat (ALDERA) dan Solidaritas Indonesia untuk Amien dan Mega (SIAGA) yang menentang Presiden Soeharto.

Pius ditangkap di depan RSCM pada 4 Februari 1998. Dia ditodong pistol di dalam mobil yang membawanya ke penyekapan. Dia diinterogasi, disetrum, direndam, ditelanjangi, hingga diinjak kepalanya. Dia dibebaskan pada 2 April 1998.

Berdasarkan catatan pemberitaan detikcom tahun 2005, Pius adalah Panglima Brigade Siaga Satu (Brigas), masuk dalam gerbong gerakan pembaharuan PDIP yang ingin mengoreksi manajemen otoriter. Saat itu, Pius tidak mendukung Megawati untuk kembali menjadi Ketum PDIP.

Selanjutnya, dia menjadi Wasekjen Partai Demokrasi Pembaruan tahun 2005-2007, menjadi Ketua Umum Partai Persatuan Nasional tahun 2007-2008, dan akhirnya berlabuh di Partai Gerindra dan berhasil menjadi anggota DPR pada periode 2009-2014. Dia kembali lolos menjadi anggota DPR periode 2014-2019 dari Partai Gerindra.

Tahun 2019, dia mulai menjadi anggota II Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), hingga sekarang.

Faisol Riza: : Ketua Komisi VI DPR

Pada era 1998, Faisol Riza adalah Ketua Solidaritas Mahasiswa Untuk Demokrasi (SMID), salah satu organisasi Partai Rakyat Demokratik (PRD). Faisol ditangkap penculik saat bersama dengan Jati, yakni di RSCM pada 12 Maret 1998.

Riza sempat sembunyi di WC RSCM namun kemudian dipukuli, termasuk di ulu hati sehingga tidak dapat berteriak dan sulit bernapas. Tangannya diborgol, pinggangnya ditodong pistol. Wajahnya sempat difoto di tempat penyekapan, meski matanya kemudian ditutup. Dia dipukuli dan disetrum di bagian persendian kecuali dada, dia juga disundut rokok dan kaki-tangannya dibakar dengan korek api, serta digantung dan ditidurkan di atas balok es. 25 April 1998, Riza dibebaskan oleh penculik.

Seiring waktu, Riza kemudian menjadi politikus PKB. Dilansir situs resmi DPR, Riza menjadi Wakil Ketua DPW PKB DKI pada 2008 hingga 2009. Pada 2009, Riza menjadi Wakil Sekjen PKB. Dia kemudian bekerja sebagai Staf Khusus Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada 2009-2014, dan menjadi Staf Khusus Kementerian Pemuda dan Olah Raga pada 2014-2017.

Riza berhasil melenggang ke Senayan, menjadi anggota DPR periode 2019-2024 dari PKB. Kini, dia menjadi Ketua Komisi VI DPR.

Nezar Patria: Jurnalis, PT Pos

Nezar Patria juga merupakan aktivis SMID dan PRD. Nezar, Aan, dan Mugiyanto sama-sama tinggal di rumah susun Klender. Nezar juga diculik pada waktu yang sama dengan Aan.

Nezar dibawa ke Poskotis Markas Kopassus. Sama seperti rekannya, Nezar juga diinterogasi, dipukul, hingga disetrum. Selanjutnya, Nezar dan kawan-kawannya dibawa ke Kodam Jaya dan akhirnya polda Metro Jaya. Nezar juga dituduh melakukan tindakan subversif. 5 Juni 1998, Nezar dan kawan-kawan disuruh meneken Surat Perintah Penangguhan Penahanan dari Polda Metro Jaya, kemudian dibebaskan.
Selanjutnya, Nezar berkecimpung di dunia jurnalisme. Dia menjadi Pemimpin Redaksi The Jakarta Post. Kabar terbaru, sebagaimana diberitakan detikcom pada Kamis (24/9) kemarin, Nezar menjadi Direktur Kelembagaan PT Pos Indonesia (Persero), perusahaan pelat merah.