Nyi Ageng Serang, Satu-satunya Panglima Wanita Sakti Perang Jawa

Perempuan ningrat kelahiran Serang ini mendobrak stigma perempuan Jawa yang lemah. Sebenarnya tak semua semua perempuan Jawa sesuai stigma tersebut. Dalam sejarahnya banyak perempuan-perempuan hebat.

Peter Carey, sejarawan Universitas Oxford dalam buku Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX, mencontohkan salah satu perempuan hebat itu adalah Raden Ayu Serang. Siapakah dia?

Baca: Nyi Ageng Serang, Panglima Perang Dan Penakluk Hati Hamengku Buwono II

Raden Ayu Serang—lebih dikenal sebagai Nyi Ageng Serang—dilahirkan di Desa Serang, 40 kilometer sebelah utara Surakarta dekat Purwodadi di pinggir Kali Serang sekitar tahun 1762. Nyi Ageng Serang adalah perempuan pejuang yang gigih berperang melawan penjajah di daerah Kulon Progo.

Nama aslinya Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Ia putri bungsu Pangeran Natapraja, penguasa Serang yang juga teman seperjuangan Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I).

Sewaktu berusia 16 tahun, Nyi Ageng Serang pernah dipersunting oleh Hamengkubowo II, tapi perkawinan mereka tidak bertahan lama. Sang raden ayu lalu menikah lagi dengan Pangeran Serang I (Pangeran Mutia Kusumowijoyo) yang masih kerabat keluarga Kalijaga. Pasangan itu lantas mukim di Serang, dekat Demak, daerah di kawasan pantai utara Jawa.

Putranya, Pangeran Kusumowijoyo yang dijuluki Pangeran Serang II, menjadi panglima Diponegoro di areal Demak pada bulan-bulan awal Perang Jawa.

Peter Carey menyebut berkat latar belakang keturunan mereka yang berasal pada sang wali dan laku tirakatnya, sang pangeran dan ibunya sangat dihormati pengikut Diponegoro karena dianugerahi kasekten (kesaktian atau tenaga batin) luar biasa. Kemampuan itu dicapai dengan bersemadi dalam gua-gua sunyi di pantai selatan Jawa.

Bahkan terdapat kabar angin Diponegoro bersiap mengalihkan sebagian wewenangnya kepada cucu Raden Ayu Serang—Raden Mas Papak—bila ia menang melawan Belanda.