Rumah Gadang -Sumatera Barat (Minangkabau)

Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang letaknya di tengah Pulau Sumatera dengan mengakibatkan Padang sebagai ibu kotanya. Sesuai namanya, Sumatera Barat memang terletak di sepanjang pesisir Barat Pulau Sumatera. Kepulauan Mentawai dan pulau lain di Samudera Hindia bahkan masih masuk dalam wilayahnya. Provinsi ini dihuni oleh masyarakat suku Minangkabau selaku suku orisinil dan sekaligus suku mayoritasnya. Suku Minangkabau sendiri –atau biasa disebut Orang Minang, merupakan sub suku Melayu yang mempunyai budaya dan karakteristik yang unik. Selain pandai berniaga, pandai memasak, dan gemar merantau, orang Minang juga punya sebuah ikon budaya yang sangat dikenal di seluruh dunia. Ikon budaya tersebut yaitu rumah Gadang, yang sekarang telah secara resmi dan ditetapkan menjadi rumah adat dari Provinsi Sumatera Barat.

1. Asal-Usul

Masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia, menganut falsafah hidup “alam takambang jadi guru”. Mereka mengakibatkan alam sebagai guru untuk membangun kebudayaan mereka. Orang-orang Minangkabau menganut paham dialektis, yang mereka sebut “bakarano bakajadian” (bersebab dan berakibat), sebagaimana dinamika alam, yaitu selaras dan dinamis. Pengejawantahan dari paham tersebut salah satunya sanggup dilihat dari arsitektur rumahnya, Rumah Gadang. Gaya seni bina, pembinaan, hiasan cuilan dalam dan luar, dan fungsi rumah merupakan aktualisasi falsafah hidup orang Minangkabau.
Harmonis dan dinamis sebenarnya merupakan konsepsi yang berlawanan. Harmonis berkaitan dengan keselarasan, dan dinamis berkait dengan pertentangan. Hanya saja, ketika serasi dan dinamis dipahami dalam konteks “bakarano bakajadian”, maka kedua hal tersebut menghasilkan sebuah kebudayaan yang menakjubkan. Bentuk tubuh Rumah Gadang yang segi empat dan membesar ke atas (trapesium terbalik), atapnya melengkung tajam menyerupai bentuk tanduk kerbau, sisinya melengkung ke dalam, cuilan tengahnya rendah menyerupai perahu, secara estetika merupakan komposisi yang dinamis. Jika dilihat pula dari sebelah sisi bangunan (penampang), maka segi empat yang membesar ke atas ditutup oleh atap berbentuk segi tiga yang melengkung ke dalam, semuanya membentuk suatu keseimbangan estetis, harmonis.

Disebut Rumah Gadang (Gadang = besar), bukan lantaran bentuk fisiknya yang besar, melainkan lantaran fungsinya. Sebagaimana diungkapkan dalam syair:

Rumah gadang basa batuah,
Tiang banamo kato hakikaik,
Pintunyo basamo dalia kiasannya,
Banduanyo sambah-manyambah,
Bajanjang naiak batanggo turun,
Dindiangnyo panutuik malu,
Biliaknyo aluang bunian.

Artinya:

Rumah gadang besar bertuah,
Tiangnya berjulukan kata hakikat,
Pintunya berjulukan dalil kiasan,
Bendulnya sembah-menyembah,
Berjenjang naik, bertangga turun,
Dindingnya epilog malu,
Biliknya alung bunian.

Rumah Gadang disamping sebagai daerah tinggal, juga sebagai daerah musyawarah keluarga, daerah mengadakan upacara-upacara, pewarisan nilai-nilai adat, dan representasi budaya matrilenial. Sebagai daerah tinggal, Rumah Gadang mempunyai tata hukum yang unik. Perempuan yang telah bersuami menerima jatah satu kamar. Perempuan yang paling muda menerima kamar yang paling ujung dan akan pindah ke tengah jikalau ada perempuan lain, adiknya, yang bersuami. Perempuan renta dan bawah umur memperoleh daerah di kamar erat dapur. Gadis cerdik balig cukup akal memperoleh kamar bersama pada ujung yang lain. Sedangkan pria tua, duda, dan bujangan tidur di surau milik kaumnya masing-masing.
Bentuk Rumah Gadang dan rangkiang pada tahun 1910

Rumah Gadang juga merupakan daerah bermusyawarah untuk mencari kata mufakat antar anggota keluarga. Di daerah ini setiap duduk kasus dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya. Dengan cara ini, keselarasan dan keharmonisan antar angggota keluarga dibangun. Selain itu, Rumah Gadang merupakan daerah menjaga martabat. Di daerah ini, penobatan penghulu dilakukan, perjamuan penting diadakan, dan para penghulu mendapatkan tamu-tamu yang dihormati. 

Oleh lantaran itu, tidak heran jikalau Rumah Gadang sangat dimuliakan, bahkan dipandang suci oleh masyarakat Minangkabau. Status Rumah Gadang yang begitu tinggi melahirkan bermacam-macam tata aturan. Setiap orang yang hendak naik ke Rumah Gadang terlebih dahulu harus mencuci kakinya di bawah tangga. Biasanya di bawah tangga tersebut terdapat sebuah kerikil ceper yang lebar (batu telapakan), sebuah daerah air dari kerikil (cibuk meriau), dan sebuah timba air dari kayu (taring berpanto).
Jika ada perempuan yang tiba bertamu, sebelum masuk dan masih berada di halaman, maka ia terlebih dahulu harus menanyakan apakah di rumah tersebut ada orangnya. Kalau yang tiba laki-laki, ia harus mendeham terlebih dahulu di halaman hingga ada sahutan dari dalam rumah. Laki-laki yang boleh tiba ke rumah itu bukan orang lain tetapi keluarga penghuni rumah itu sendiri, mungkin mamak, orang semenda, atau pria yang lahir di rumah tersebut tetapi telah bertempat tinggal di rumah lain.
Jika yang tiba bertamu itu tungganai, ia didudukkan di lanjar terdepan pada ruang sebelah ujung di depan kamar gadis-gadis. Kalau yang tiba itu ipar atau besan, mereka ditempatkan di lanjar terdepan di depan kamar istri pria yang menjadi kerabat tamu itu. Kalau yang tiba itu ipar atau besan dari perkawinan kaum pria di rumah itu, mereka ditempatkan di depan kamar para gadis di cuilan lanjar tengah. Kaum lelaki yang hendak membicarakan suatu hal dengan andal rumah yang laki-laki, menyerupai semenda atau mamak rumah, tidak lazim melakukannya di dalam Rumah Gadang. Pertemuan antara pria tempatnya di masjid atau surau, di pemedanan atau gelanggang, di balai atau di kedai. Jika ada kaum pria yang membawa tamu laki-lakinya berbincang-bincang di dalam rumah kediamannya, maka ia dianggap tidak tahu diri.
Aturan juga berlaku ketika anggota keluarga penghuni Rumah Gadang hendak makan. Walaupun para anggota keluarga hidup dan tinggal dalam satu rumah, tetapi mereka tidak makan bersamaan kecuali pada program kenduri (upacara). Perempuan yang tidak bersuami makan di ruangan erat dapur. Para perempuan yang sudah bersuami makan bersama suami masing-masing di depan kamarnya sendiri-sendiri. Kalau banyak orang semenda di atas rumah, maka mereka akan makan di dalam kamar masing-masing. Kalau ada ipar atau besan yang tiba bertamu, mereka akan selalu diberi makan. Waktu makan para tamu tidaklah ditentukan. Semua tamu harus diberi makan sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. Yang menemani tamu pada waktu makan ialah kepala rumah tangga, yaitu perempuan yang dituakan di rumah itu. Perempuan yang menjadi istri saudara atau anak pria tamu itu bertugas melayani. Sedangkan perempuan lainnya duduk pada lanjar cuilan dinding kamar menemani tamu tersebut.

2. Bahan dan Tenaga

Rumah Gadang Minangkabau merupakan rumah milik bersama sebuah kaum (keluarga besar). Oleh lantaran itu, pembangunan rumah yang dibangun di atas tanah kaum ini dilakukan secara bergotong-royong. Namun demikian, yang bertanggungjawab dalam proses pembangunannya yaitu tukang ahli. Tukang yang dikatakan sebagai tukang andal yaitu tukang yang sanggup memanfaatkan setiap materi yang tersedia berdasarkan kondisinya atau biasanya disebut indak tukang mambuang kayu (tidak tukang membuang kayu). Sebab, setiap kayu ada keuntungannya dan sanggup digunakan secara sempurna jikalau tukangnya yaitu tukang ahli.

Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk menciptakan Rumah Gadang di antaranya adalah:

  • Kayu. Kayu merupakan unsur terpenting untuk membangun Rumah Gadang, khususnya untuk tonggak tuo. Oleh lantaran tonggak tuo merupakan penentu kokoh tidaknya Rumah Gadang, maka kayu yang digunakan yaitu kayu-kayu pilihan yang pengadaannya selalu didasarkan pada adat-istiadat masyarakat.
  • Ijuk. Ijuk digunakan untuk menciptakan atap rumah.
  • Jerami. Selain ijuk, jerami juga digunakan untuk menciptakan atap rumah.
  • Bambu. Bambu digunakan untuk menciptakan dinding pada cuilan belakang rumah.
  • Papan. Papan merupakan kayu yang dibelah tipis sekitar 3-5 cm dan digunakan untuk menciptakan dinding.
Dinding cuilan belakang Rumah Gadang terbuat dari anyaman bambu.

3. Pemilihan Tempat

Oleh lantaran Rumah Gadang dimiliki bersama oleh suatu kaum, maka tanah yang digunakan yaitu tanah kaum. Lokasi di mana tanah kaum berada, memilih arsitektur bangunan yang boleh dibangun, misalnya: Rumah Gadang bergonjong empat atau lebih hanya boleh didirikan pada perkampungan yang berstatus nagari atau koto; untuk ukuran dusun, hanya boleh bergonjong dua; dan di teratak dihentikan didirikan rumah bergonjong.
4. Tahapan Pembangunan Rumah Gadang

Pembangunan Rumah Gadang Minangkabau membutuhkan waktu yang cukup lama, bertahun-tahun, bahkan kadang kala hingga belasan tahun. Adapun prosesnya yaitu sebagai berikut:

a. Persiapan

1) Musyawarah

Proses paling awal pembangunan Rumah Gadang yaitu musyawarah, adok-adok, antara sesama saudara pada suatu kaum, dan dilanjutkan musyawarah dengan seluruh kaum dalam pesukuan itu. Dalam musyawarah ini, dikaji letak yang tepat, ukuran rumah, dan kapan waktu untuk mulai mengerjakannya. Hasil musyawarah disampaikan kepada penghulu suku. Kemudian penghulu suku memberikan rencana mendirikan Rumah Gadang itu kepada penghulu suku yang lain (para ninik-mamak dalam nagari) hingga ditemukan kata mufakat bahwa niat mendirikan rumah sanggup diterima. Persetujuan terhadap rencana pembangunan rumah biasanya tercapai dikarenakan telah sesuai dengan moral istiadat yang berlaku di masyarakat, batuanglah tumbuh dimato (apa yang telah diputuskan itu pada tempatnya).


2) Mengumpulkan bahan

Setelah terdapat mufakat antara ninik-mamak, maka proses selanjutnya yaitu pengumpulan bahan. Pengumpulan materi merupakan tahap pembangunan yang paling sulit dan membutuhkan waktu paling lama. Dalam mengumpulkan materi harus berpegang pada hukum moral yang berlaku, contohnya dihentikan menebang kayu yang sedang berbunga. Adapun prosesnya sebagai berikut:
  • Pengumpulan materi diawali dengan mencari tonggak tuo (tiang tua) di hutan. Ketika waktu yang telah ditentukan dalam musyawarah tiba, berangkatlah orang-orang ke hutan. Namun sebelum berangkat, diadakan upacara yang bertujuan semoga tujuan ke hutan tercapai. Upacara tersebut diakhiri dengan makan bersama.
  • Bila kayu yang dicari sudah didapat, maka kayu tersebut diberi tanda (dikatuah). Tujuannya yaitu untuk memberitahukan kepada kelompok lain bahwa kayu tersebut sudah ada yang punya. Cara ini dilakukan lantaran belum tentu kayu yang cocok sanggup ditebang pada dikala itu juga. Menurut pengetahuan lokal masyarakat Minangkabau, menebang kayu untuk membangun rumah dihentikan dilakukan pada dikala pohon itu sedang berbunga. Mereka berkeyakinan bahwa setua apapun kayunya, jikalau ditebang pada dikala berbunga, maka kayu tersebut akan dimakan rayap.
  • Kemudian kayu tersebut dipotong-potong (ditarah) sesuai dengan kegunaannya.
  • Setelah itu, seluruh anggota kaum secara beramai-ramai membawanya ke daerah di mana Rumah Gadang itu akan didirikan. Orang-orang dari kaum dan suku lain akan ikut membantu sambil membawa alat bunyi-bunyian untuk memeriahkan suasana. Sedangkan kaum perempuan membawa makanan. Peristiwa ini disebut maelo kayu (menghela kayu).
  • Setelah tiba di kampung, kayu tersebut direndam ke dalam lunau atau lumpur yang airnya mengalir. Demikian juga bambu dan ruyung yang akan digunakan. Tujuannya semoga kayu, bambu, dan ruyung tersebut awet, tidak gampang lapuk, dan tahan rayap. Setelah kayu direndam, diadakan upacara syukuran dan diakhiri dengan makan bersama.
  • Sedangkan papan (kayu yang dibelah atara 3-5 cm) dikeringkan tanpa kena sinar matahari.
  • Tahap selanjutnya yaitu mencari kayu-kayu lain (untuk tiang dan papan) yang tidak lagi disertai dengan upacara-upacara.

b. Pembangunan

apabila bahan-bahan yang diperlukan untuk mendirikan rumah sudah tersedia, maka dimulailah tahap pengolahan kayu. Tahap pertama yaitu mancatak tunggak tuo, yaitu menciptakan tiang utama. Pembuatan tunggak tuo ini diawali dengan mengadakan kenduri. Kenduri ini bertujuan semoga pembangunan rumah berjalan dengan lancar dan rumah yang dibangun memperlihatkan ketentraman bagi penghuninya.
Setelah tunggak tuo selesai, maka para tukang mulai menciptakan bagian-bagian rumah yang lain sesuai dengan keahliannya. Hanya saja yang perlu diperhatikan yaitu bahwa para tukang harus mempunyai kesadaran bahwa setiap kayu ada keuntungannya apabila digunakan secara cermat dan tepat. Menurut sebuah ungkapan disebutkan:

Nan kuaik ka jadi tonggak,
Nan luruih jadikan balabeh,
Nan bungkuak ambiak ka bajak,
Nan lantiak jadi bubuangan,
Nan satampok ka papan tuai,
Panarahan ka jadi kayu api,
Abunyo ambiak ka pupuak.

Maksudnya:

Yang kokoh akan jadi tonggak,
Yang lurus jadikan penggaris,
Yang bungkuk gunakan untuk bajak,
Yang lentik dijadikan bubungan,
Yang setapak jadikan papan tuas,
Penarahannya akan jadi kayu api,
Abunya gunakan untuk pupuk.

 

Jika pembuatan bagian-bagian rumah telah selesai, maka dilanjutkan dengan menegakkan dan merangkai bagian-bagian tersebut. Pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga dilakukan secara gotong-royong, menyerupai ketika batagak tunggak (menegakkan tiang), yaitu tahap menegakkan seluruh tiang dan merangkainya dengan balok-balok yang tersedia. Proses batagak tunggak biasanya diawali dengan program kenduri dan diakhiri dengan makan bersama.
Setelah semua tunggak telah terangkai (tersambung) dengan bagian-bagian lain, maka dilanjutkan dengan menciptakan cuilan tengah rumah, diantaranya yaitu pemasangan lantai dan dinding. Kemudian dilanjutkan dengan menciptakan cuilan atas Rumah Gadang. Pembangunan cuilan atas Rumah Gadang ditandai dengan manaikkan kudo-kudo (menaikkan kuda-kuda). Pada dikala manaikkan kudo-kudo, tuan rumah biasanya mengadakan kenduri. Tujuan mudah dari pelaksanaan kenduri ini yaitu mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan bantu-membantu manaikkan kudo-kudo. Pembangunan cuilan atas Rumah Gadang diakhiri dengan pemasangan atap.

Apabila pembangunan rumah sudah selesai, maka pemilik rumah sebelum menempatinya terlebih dahulu mengadakan kenduri manaiki rumah. Kenduri ini dihadiri oleh semua orang yang terlibat dalam pembangunan rumah. Oleh lantaran kenduri ini merupakan upacara syukuran dan tanda terima kasih kepada semua orang yang telah membantu, maka dalam perjamuan ini semua tamu tidak membawa apa-apa.