Timor Timur, Provinsi yang Memilih Berpisah Dari Indonesia

Lensa Budaya ~ Era Reformasi juga ditandai dengan lepasnya provinsi ke-27 Indonesia, Timor Timur atau Timtim. Provinsi yang bertetangga dengan Nusa Tenggara Timur ini, menjadi negara merdeka tidaklah dengan jalan yang mudah. Bahkan, bisa dilacak jauh sejak era kolonial di abad ke-17.

Ketika itu pulau ini dikuasai oleh dua kekuatan Eropa, Portugis dan Belanda, yang bersaing untuk menguasai pulau tanpa hasil apa pun. Mereka kemudian memutuskan untuk membagi pulau menjadi dua, di mana Portugis mengendalikan bagian timur pulau dan Belanda menguasai bagian barat dan seluruh Indonesia.

Di bawah pemerintahan Portugis, Timor Leste diabaikan dan dieksploitasi. Mereka tidak pernah mendapatkan investasi atau pengembangan dalam bentuk apa pun dari Portugis kecuali yang dapat memberikan keuntungan balik, yaitu di bidang ekspor Cendana dan kopi.

Penguasaan Jepang di pulau itu berlangsung singkat dan Portugis kembali berkuasa usai Perang Dunia II. Dua dasawarsa berlalu, Portugis mendapat perlawanan besar dari rakyat Timor Leste yang akhirnya meninggalkan koloninya dan memulai pendirian partai politik oleh rakyat di Timor Leste untuk pertama kalinya pada 1975.

Berawal dari runtuhnya kekuasaan Portugis itu, perpecahan terjadi di kalangan penduduk yang menghuni kawasan seluas 30.777 kilometer persegi itu. Mereka terpolarisasi pada tiga faksi, yaitu Partai Uniao Democratica Timorense (UDT), Frente Revolucionaria de Timor-Leste Independente (Fretilin), dan Associacao Popular Democratica de Timor (Apodeti).

Ketiga faksi ini memiliki agenda berbeda. UDT menyatakan bahwa Timor Timor harus tetap menjadi bagian dari koloni Portugal. Fretilin mendesak Timor Timur harus menjadi negara merdeka. Sedangkan Apodeti, menyarankan bergabung dengan Indonesia sebagai solusi terbaik.

Indonesia melihat peluang untuk mengajak Timor Timor bergabung demi menjaga agar wilayah Asia Tenggara tak disusupi paham komunis. Namun demikian, Timor Timur menolak kemerdekaan yang mereka dapatkan dari Portugis dirampas begitu saja. Tak ada jalan lain bagi Indonesia selain merebut wilayah ini dengan operasi militer.

Pada 7 Desember 1975, dengan memakai nama Operasi Seroja, invasi dimulai melalui sebuah operasi militer terbesar yang pernah dilakukan Indonesia sampai saat ini.

Pasukan Indonesia mengambil kendali atas menara radio, memutuskan komunikasi dengan dunia luar dan menggulingkan pemerintah Fretilin serta mampu mengambil kendali atas Dili, ibu kota Timor Timur. Mereka kemudian mengambil alih Baucau, kota terbesar kedua pada hari berikutnya.

Menjadi basis faksi terkuat saat itu, Fretilin dengan militernya bernama Falintil, tak menyerah dan terus melakukan kontak senjata, hingga berani medeklarasikan nama Republik Demokratik Timor Leste pada 28 Desember 1975.