Tragedi Santa Cruz: Pembantaian Berdarah Dingin di Timor Timur

Lensa Budaya ~ Wartawan Amerika Allan Nairn memutuskan maju ke depan menerobos kerumunan massa di kompleks pemakaman Santa Cruz, Dili, 12 November 1991 lalu. Naluri jurnalisnya mengatakan bakal terjadi sesuatu terhadap masyarakat sipil.

Kala itu, massa dari mahasiswa dan pemuda berdemontsrasi memprotes kematian Sebastião Gomes, aktivis pro-kemerdekaan, yang ditembak mati tentara Indonesia. Mereka membawa spanduk bertuliskan tuntutan kemerdekaan dan meneriakkan slogan-slogan bernada menghina petugas. “Usir ABRI!.. Viva Xanana!… Viva Fretilin!”

Allan melihat di jalanan anggota ABRI –kini TNI– mendekat kepada kerumunan massa di Santa Cruz. Mereka berseragam lengkap dengan menenteng senapan otomatis M16 dari Amerika Serikat. “Itu negara saya,” ucap Allan.

Baca: Timor Timur, Provinsi yang Memilih Berpisah Dari Indonesia

Melihat gelagat tak baik, Ia pun merangsek ke depan dengan menyelinap kerumunan massa untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah. Karena personel tentara yang berdatangan kian banyak.

“Tentara yang berdatangan makin banyak jumlahnya, hingga ribuan. Jadi saya memutuskan harus maju ke depan kerumunan karena kami pikir bisa mencegah pembantaian,” ucap dia.

Allan berharap sebagai jurnalis asing, mungkin bisa bertindak sebagai perisai antara tentara yang mendekat dan rakyat Timor yang berkumpul dalam peringatan itu.

Tapi sebaliknya, Ia malah dipukuli dan tentara Indonesia mulai menembak ke arah kerumunan. “Kapten itu menembak secara sistematis dan darah memenuhi jalanan,” kenang Allan.

Tragedi berdarah ini menewaskan 271 orang — versi pemerintah 19 orang dan Komisi Penyelidik Nasional (KPN) 50 orang–, 382 terluka, dan 250 menghilang. Salah satu yang meninggal adalah warga Selandia Baru, Kamal Bamadhaj, yang merupakan pelajar ilmu politik dan aktivis HAM berbasis di Australia.

Sintong Panjaitan, yang kala itu menjabat Panglima Kodam IX/Udayana menyebut, satuan penindak huru-hara tidak memiliki peralatan dalam mengatasi demonstran yang kian brutal. Rompi antipeluru dan perisai juga tak ada. Mereka tanpa gas air mata, senapan peluru karet, pentungan karet maupun watercannon.

“Bahkan pada waktu itu, dua pleton Yonif-303 tidak memakai helm. Mereka mengenakan pakaian dinas lapangan bercorak ‘loreng Malvias’ dengan topi rimba yang rawan terhadap pelemparan batu ke arah kepala,” tulis Hendro Subroto dalam bukunya, Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando.

Dua pleton Yonif-303 itu hanya memegang senapan serbu M16A1 di tangan. Sehingga secara psikologis, hal itulah yang merangsang terjadinya kecenderungan untuk menembak.

Usai penembakan, Kolonel Dolfi Rondonuwu yang memantau aksi demonstrasi menyaksikan para korban tergeletak berlumuran darah di luar dan dalam pekuburan Santa Cruz. Beberapa orang anggota Yonif 744 pun menangis karena tidak menduga akan terjadi malapetaka seperti itu. Mereka menyadari bahwa itu merupakan kesalahan.

“Mengapa sampai terjadi begini? kata seorang prajurit Yonif 744.

Kolonel Dolfi menilai keberhasilan operasi teriotorial selama lebih dari dua tahun, rusak dalam sekejap akibat peristiwa berdarah ini.

Pemicu Insiden

Sebelum insiden berdarah di Santa Cruz, delegasi yang terdiri dari anggota parlemen Portugal dan 12 wartawan mengunjungi Timor Timur pada Oktober 1991. Para mahasiswa telah bersiap-siap menyambut kedatangan delegasi ini.

Namun rencana ini dibatalkan setelah pemerintah Indonesia mengajukan keberatan atas rencana kehadiran Jill Joleffe sebagai anggota delegasi itu. Joleffe adalah seorang wartawan Australia yang dipandang mendukung gerakan kemerdekaan Fretilin.