Tragedi Cinta Nyai Dasima dan Bujukan Berbalut Agama

Nyai Dasima telah menjadi legenda kota Jakarta. Kisah hidup Sang Nyai bukan sekadar cerita cinta picisan.

Cerita Nyai Dasima menyimpan sentimen rezim penjajah hingga dilema soal agama. Kisah Nyai Dasima begitu melegenda di Jakarta sejak bernama Batavia, sehingga orang-orang menganggap Nyai Dasima benar-benar sosok yang pernah hidup di masa lalu.

‘Tjerita Njai Dasima’ mencuat lewat novelet (novel pendek) karya Gijsbert Francis yang diterbitkan oleh Kho Tjeng Bie & Co, Batavia tahun 1896. Francis sendiri menyampaikan, ceritanya berlatar belakang tahun 1813. Selepas Gisbert, penulis lain kemudian menuliskan ulang (dengan sentimen berbeda) cerita Nyai Dasima, salah satunya adalah SM Ardan tahun 1965.
Satu buku yang memuat kedua versi diterbitkan oleh Masup Jakarta, berjudul ‘Nyai Dasima’. Berikut cerita tentang Nyai Dasima versi G Francis, versi yang dianggap paling tua dari urban legend Jakarta satu ini.

Cerita Nyai Dasima versi G Francis

Pada 1813, hidup Edward W (Tuan W) dan Nyai Dasima di Curuk, Tangerang. Dasima sendiri adalah perempuan pribumi dari Kampung Kuripan. Kehidupan rumah tangga mereka berlanjut ke Batavia, tempat Edward W bekerja di toko Inggris kawasan Kota. Tuan W bekerja rutin dari pagi hingga jam lima sore.

Lokasi rumah Tuan W dan Nyai Dasima ada di Gambir, dekat Kali Ciliwung. Di situ, Tuan W dan Nyai Dasima hidup bahagia dan dikaruniai seorang anak, gadis kecil bernama Nanci. Kebutuhan hidup Nyai Dasima senantiasa dicukupi oleh Tuan W. Seluruh gaji Tuan W selalu diserahkan ke Nyai Dasima untuk dikelola. Penampilan Nyai Dasima senantiasa memesona warga pribumi. Perhiasan dan kemewahan dia punya.

Dalam waktu dua tahun saja, Nyai Dasima menjadi dikenal di kampung-kampung pribumi Batavia. Dia dikenal sebagai perempuan pribumi beragama Islam nan kaya raya, menjadi ‘bini piare (istri piaraan yang tidak sah)’ dari pria kulit putih Nasrani.

Kemasyhuran Nyai Dasima sampai juga ke telinga pria beristri yang tinggal di Pejambon. Nama pria itu adalah Samiun. Dia memang sudah beristri, nama istrinya Hayati. Namun demikian, Samiun yang bekerja sebagai tukang tadah barang curian ini ingin mengambil hati Nyai Dasima.

Samiun menyuruh perempuan tua bernama Mak Buyung supaya menasihati Nyai Dasima agar meninggalkan hidup ‘kumpul kebo’ dengan Tuan W, dan memulai hidup sesuai ajaran agamanya sendiri. Begini kata-kata Samiun ke Mak Buyung soal Nyai Dasima