Troya dan Bubat, Dua Perang di Masa Kerajaan Hanya karena Perempuan

Pada masa kerajaan, perang kerap terjadi karena beragam alasan. Salah satunya mulai dari untuk mempertahankan wilayah hingga memperebutkan kekuasaan. Bahkan perang dapat terjadi karena masalah perempuan. Berikut perang yang terjadi di masa kerajaan karena perempuan.

Perang Bubat

Perang Bubat atau Perang Pasundan Barat merupakan perang antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit yang terjadi pada 1357. Perang ini berawal karena rencana perkawinan politik antara Raja Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka Citraresmi yang merupakan putri Raja Sunda, Prabu Linggabuana.

Baca: Dyah Pitaloka, Putri Raja Sunda yang Membuat Hayam Wuruk Jatuh Cinta

Dyah Pitaloka Citraresmi menjadi orang yang bersalah setelah terjadinya Perang Bubat. Akhirnya Dyah Pitaloka memutuskan untuk bunuh diri karena seluruh pasukan termasuk orang tuanya tewas di tangan pasukan Kerajaan Majapahit.

Menurut Carita Parahyangan karya Pangeran Wangsakerta, pecahnya Perang Bubat ini karena Dyah Pitaloka yang lebih memilih orang Jawa untuk menjadi suaminya ketimbang orang Sunda.

Padahal saat itu beberapa pria Sunda hendak meminangnya. Akibat Perang Bubat, hubungan Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda rusak. Adik dari Dyah Pitaloka Citraresmi yang naik takhta menggantikan sang ayah yang tewas dalam Perang Bubat juga memutuskan untuk mengakhiri hubungan diplomatik dengan Kerajaan Majapahit.

Perang Troya

Perang Troya terjadi sekitar abad ke-13 SM. Perang ini terjadi karena perselisihan antara Pangeran Paris yang merupakan putra Raja Priamos dari Troya dan Menelaus yang merupakan Raja Sparta (Yunani Kuno). Ketika itu, Pangeran Paris dikirim oleh sang ayah guna melakukan misi kerajaan ke Sparta di Yunani. Tapi, Pangeran Paris jatuh hati kepada Helen, istri Raja Menelaus.