Fakta Dibalik Kerajaan Keraton Agung Sejagat

Keraton Agung Sejagat yang ada di Purworejo, Jawa Tengah belum lama ini menggegerkan publik. Bagaimana tidak, nama keraton ini sebelumnya tidak pernah terdengar sama sekali dan kini mengklaim telah berdiri kerajaan.

Keraton ini dipimpin oleh pasangan suami-istri yang disebut dengan Sinuhun atau Raja, Totok Santoso Hadiningrat serta Kanjeng Ratu, Dyan Gitarja. Keraton Agung Sejagat berdiri di atas sebuah bangunan yang berbentuk mirip pendopo. Keraton ini berada di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo.

Munculnya Keraton Agung Sejagat ini mulai ramai diperbincangan netizen setelah muncul foto-foto mengenai kirab budaya serata Wilujengan. Acara ini sendiri diadakan pada Jumat – Minggu, 10-12 Januari 2020. Video mengenai kirab budaya ini pun dengan cepat tersebar di media sosial dan menjadi perbincangan netizen.

Kerajaan ini mengklaim memiliki sekitar 450 orang pengikut. Oleh para pengikutnya tersebut, Totok dipanggil dengan sebutan Sinuhun sementara istrinya dipanggil Kanjeng Ratu. Keraton Agung Sejagat ini juga mengklaim sebagai kerajaan penguasa penerus Majapahit.

Baca Juga

Kehadiran Keraton Agung Sejagat ini cukup meresahkan warga sekitar. Tak tinggal diam, polisi menyelidiki kasus ini. Hingga akhirnya Polda Jateng mengamankan Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat pada Selasa (14/1/2020) petang di Purworejo, Jawa Tengah.

1. Terindikasi sebagai Penipuan

Berdasarkan laporan Kepala Desa Pogung Jurutengah melalui Camat Bayan, kegiatan keraton meresahkan warga sekitarnya dan terindikasi sebagai penipuan.

Dialnsir dari Merdeka.com, Kabag Humas dan Protokol Pemkab Purworejo Rita Purnama mengatakan Kerajaan Agung Sejagat tidak sesuai dengan sejarah.

“Banyak yang tidak sesuai dengan sejarah yang ada, karena dalam rapat terbatas tadi juga mengundang sejarawan di Purworejo,” kata Rita di Purworejo, Selasa (14/1/2020)

2. Melanggar Pasal 14 UU No 1 Tahun 1946

Raja dan permaisuri Keraton Agung Sejagat diduga melanggar Pasal 14 UU No 1 Tahun 1946 tentang penyebaran berita bohong sehingga terjadi keonaran di kalangan rakyat dan Pasal 378 KUHP tentang penipuan.

“Kita sangkakan kepada pelaku dengan Pasal 14 UU No 1 Tahun 1946 dan penipuan Pasal 378 KUHP. Namun, saat ini masih dalam pemeriksaan intensif,” kata Budi selaku Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng pada Selasa (14/1/2020).