Kekejaman Orde Baru Dalam Sejarah

Kekejaman Orde Baru kerap luput dari perhatian masyarakat terutama generasi muda yang tidak merasakan kehidupan pada masa Presiden Soeharto.

Soeharto adalah presiden terlama Indonesia yang memimpin selama 32 tahun. Sosok yang dijuluki ‘The Smilling General’ tersebut adalah penguasa Orde Baru yang terjadi pada 1966 hingga 1998.

Masa Orde Baru atau Orba menggantikan masa pemerintahan Orde Lama di era Presiden Soekarno.

Banyak yang menilai kalau hidup pada masa Orde Baru serba murah dan sejahtera.Namun, banyak juga yang menganggap kalau hidup pada masa Orde Baru sangatlah mengerikan.

Melansir idntimes.com, ada sejumlah kekejaman Orde Baru yang kerap luput dari perhatian masyarakat.

Gerakan 30 September

Gerakan 30 September adalah peristiwa kudeta yang terjadi pada 30 September hingga 1 Oktober 1965. Pada peristiwa tersebut terjadi aksi penculikan jenderal dan pembunuhan terhadap 7 pahlawan revolusi.

Akibat peristiwa itu, Soeharto menumpas tokoh-tokoh yang dianggap berkaitan dengan gerakan tersebut. Usai gejolak G30S, Soeharto menerima Supersemar dari Soekarno untuk mengambil semua tindakan menyusul antisipasi situasi keamanan pada saat itu.

Tak sedikit spekulasi kalau dalang G30S adalah Soeharto yang diatur sedemikian rupa di belakang layar.

Pembunuhan Massal

Salah satu kekejaman Orde Baru adalah penumpasan massal terhadap komunis atau simpatisan PKI. Sebanyak 500 ribu hingga 3 juta jiwa menjadi korban dalam peristiwa pembantaian 1965-1966.

Banyak korban yang tergeletak di jalan, got, warna merah darah di sungai, hingga bau mayat yang tercium.

Diskriminasi Masyarakat Papua

Pada era Soeharto, sebanyak 85 persen masyarakat Papua ingin memisahkan diri dari Indonesia. Namun, melansir Human Right Watch, Soeharto mendapat kontrol penuh atas Papua setelah melakukan pemungutan suara palsu.

Terjadi pemerintahan otoriter menyusul hukuman 15 tahun bagi mereka yang menunjukkan nasionalisme Papua. Pada masa itu, masyarakat Papua di era Orde Baru juga mulai terpinggirkan karena kebijakan transmigrasi.

Kekayaan alam Papua juga dikeruk dan mengalami diskriminasi.

Petrus

Petrus atau penembakan misterius pada 1980-an awalnya disukai masyarakat untuk menekan angka kriminalitas.

Namun, seiring waktu, aksi Petrus dianggap mengerikan dengan jumlah korban mencapai 2 ribu jiwa.

Antek-antek Soeharto akan menangkap dan mengeksekusi seseorang tanpa proses pengadilan.

Padahal, mereka yang menjadi korban bisa jadi bukan penjahat melainkan PNS hingga petani yang tak bersalah.

Pembantaian Santa Cruz

Pembantaian Santa Cruz adalah penembakan ratusan pengunjuk rasa pro kemerdekaan Timor Timur di Pemakaman Santa Cruz, Dili, pada 1991.

Peristiwa ini dianggap menjadi bagian genosida di Timor Timur dan sebagai kekejaman Orde Baru.

PBB mengutuk keras pemerintahan Soeharto sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Tragedi Tanjung Priok

Melansir kontras.org, Tragedi Tanjung Priok pada 12 September 1984 adalah salah satu pelanggaran HAM berat pada era Orde Baru.

Peristiwa Tanjung Priok adalah kerusuhan yang melibatkan TNI dan warga sipil di Tanjung Priok.

Kejahatan kemanusiaan ini dilatarbelakangi supremasi ideologi sebagai kamuflase berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Soeharto dan kroninya.

Kerusuhan Mei 1998

Terakhir adalah kerusahan Mei 1998 sebagai kekejaman Orde Baru. Kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa di Indonesia pada 13 Mei–15 Mei 1998.

Akibat peristiwa itu, banyak korban jiwa yang meninggal dan kehilangan rumah. Tak lama setelah peristiwa ini, Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden.