Tragedi Kapal Tampomas II di Laut Jawa yang Menelan Ratusan Nyawa

Tragedi kebakaran kapal Tampomas II diceritaksn di buku “Neraka di Laut Jawa: Tampomas II” (1981). Buku ini merupakan hasil rekonstruksi ulang, dilengkapi pemutakhiran data dan wawancara tambahan, atas tumpukan dokumen reportase para wartawan Sinar Harapan dan Mutiara.

Tim penyusunnya para wartawan,antara lain, Aristides Katoppo, Panda Nababan, Umar Nur Zain, Agnes Samsuri, Gerson Poyk, dan Harry Kawilarang. Bondan Winarno sebagai penulis.

Buku itu menyajikan adegan demi adegan lewat penggambaran yang demikian rinci dalam 291 halamannya. Kisah-kisah kecil yang menyentuh hati, yang dialami penumpang, awak kapal, dan para penolong.

Dalam tenggelamnya Tampomas II, bermunculan dugaan adanya ketidakberesan terkait kapal bekas berumur 10 tahun tersebut. Buruknya kondisi kapal digambarkan. Kronologi pembeliannya dimunculkan. Angka-angka yang mencurigakan dibeberkan. Namun semua data masih ditempatkan sebagai pelengkap cerita.

Tampomas adalah nama sebuah gunung di Sumedang, Jawa Barat. Ia menjadi nama bagi kapal yang beroperasi sejak Mei 1980 di bawah bendera PT PELNI. Kapal bekas, tua, dan tak terawat ini harus bekerja keras seperti kapal baru. Akhirnya, tenggelam , sebanyak 666 orang menjadi korban.

Kapal bekas ini dibeli melalui PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN) dari perusahaan Jepang Comodo Marine Co. SA dengan harga US$8,3 juta. Tampomas II diproduksi Mitsubishi Heavy Industries di Shimonoseki, Jepang, pada 1956 1956 dengan lebar 22 meter dan panjang 125,6 meter.

Kapal ini berjenis Roll on Roll off dengan tipe Screw dan berbobot mati 2419690 dwt. Kapal ini sempat dimodifikasi ulang pada 1971 sehingga bisa dipacu pada kecepatan 19,5 knot.

Memorandum of Agreement (Moa) pembelian kapal tercatat pada 23 Februari 1980 dengan Junus Effendi Habibie alias Fanny Habibie, adik B.J. Habibie, bertindak sebagai Ketua Steering Committe (SC) pembeliannya. Tapi ia menampik bertanggung jawab soal spesifikasi kapal.

Kapal Tampomas II bertolak pada Sabtu, 24 Januari 1981, pukul 19.00 WIB dari Dari Tanjung Priok, Jakarta. Di atas kapal terdapat 191 mobil, 200 sepeda motor, dan diperkirakan 1.442 orang. Dari jumlah itu, yang tercatat secara resmi sebanyak 1.054 orang. Sisanya adalah penumpang gelap.

Kapal rusak, minggu malam 25 Januari 1981 pukul 20.00 WITA karena kebocoran bahan bakar. Api menyambar dan kru mesin mati-matian memadamkannya dengan alat pemadam portabel.