Sejarah Kerajaan Sriwijaya: Kejayaan| Keruntuhan| Nama Raja dan Peninggalannya

Kerajaan Sriwijaya atau dalam bahasa Thailand disebut Siwichai adalah kemaharajaan maritim yang lokasinya berada di Pulau Sumatera (Indonesia bagian barat) , dekat dengan Singapura dan Malaysia. Pada artikel kali ini kita akan ulas secara lengkap terkait dengan Sejarah Kerajaan Sriwijaya , mulai dari awal berdiri , kehidupan ekonomi , politik , sosial , budaya , masa kejayaan , keruntuhan , hubungan dengan luar , raja-raja yang berkuasa dan beberapa peninggalan. Oke langsung simak selengkapnya..

 
Kerajaan Sriwijaya tidak terdengar asing bagi kita , karena pernah mendapatkan materinya pada  saat pelajaran sejarah sewaktu SMP dan SMA. Seluas apakah kekuasaan Sriwijaya? Perlu kalian ketahui , kekuasaan kerajaan ini terdiri dari wilayah seperti seluruh pulau Sumatera , Jawa Tengah , Jawa Barat , Semenanjung Malaya , Thailand bagian selatan , dan Kamboja.
Sejarah Kerajaan Sriwijaya
Kata “Sriwijaya” berasal dari bahasa Sansekerta , Sri artinya “Gemilang” atau “Bercahaya” , sementara wijaya maknanya “Kejayaan/Kemenangan”. Dapat kita analisis bahwa Sriwijaya berarti “Kejayaan kemenangan yang gemilang”.
Kata Sriwijaya dijumpai pertama kali pada Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di pulau Bangka. Berdasarkan informasi dari wikipedia , dijelaskan bahwa Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke 7 (tujuh) , bukti mengenai keberadaan bisa kita ketahui dari beberapa peninggalannya , termasuk prasasti Kedukan Bukit. Munculnya Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan telah mengalihkan perhatian para ahli sejarah Indonesia dari kerajaan Mataram.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Beberapa orang terkadang menyimpulkan bahwa keberadaan Kerajaan Sriwijaya di Nusantara masih menjadi misteri , pendapat tersebut disebabkan karena sumber sejarah kerajaan Sriwijaya masih tidak cukup untuk menggambarkan sejarah dari awal hingga keruntuhan (akhir).

Bukti fisik Sriwijaya masih belum banyak ditemukan , terlebih lagi tidak ada catatan lebih lanjut terkait dengan Sejarah Kerajaan Sriwijaya. Bahkan sebelum tahun 1920 , orang Indonesia modern belum ada yang mendengar mengenai Sriwijaya , sejarahnya benar-benar terlupakan. Baru setelah tahun 1920an diangkat kembali oleh sarjana asing.

Sriwijaya adalah kerajaan terbesar di Nusantara pada abad ke 20 , sekaligus menjadi simbol kebesaran Pulau Sumatera pada saat itu. Ada beberapa sebutan atau julukan terkait dengan nama “Sriwijaya” , seperti Javadeh dan Yavadesh (dalam bahasa Pali dan Sanskerta). Sementara itu , orang Tiongkok atau Tionghoa menyebutnya dengan nama San Fo Qi atau San Fo Ts’i dan Li Fo Shih. Ada juga Zabaj (Arab) dan Melayu (Khamer). Banyaknya nama merupakan salah satu kendala sulitnya menemukan kerajaan Sriwijaya.

Awal Berdirinya Kerajaan Sriwijaya

Berdasarkan sumber catatan I Tsing , Kerajaan Sriwijaya sudah ada sejak tahun 671 Masehi. Kemudian dalam isi Prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 682 menyebutkan bahwa Dapunta Hyang merupakan pemimpin atau raja pada saat itu. Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Maritim sekaligus pusat perdagangan di Asia Tenggara , khususnya Nusantara.

Kemudian pada peninggalan lain berupa prasasti dengan nama “Kota Kapur” berangka tahun 686 menyebutkan bahwa Kerajaan Sriwijaya telah menguasai wilayah seperti Lampung , Belitung , Sumatera Selatan dan Pulau Bangka. Isi lain menceritakan tentang ekspedisi militer ke Bhumi Jawa (Pulau Jawa) yang bertujuan untuk melakukan penaklukan terhadap kerajaan yang ada. Bila mengacu pada tahun tersebut , maka ekspedisi ini bersamaan dengan runtuhnya kerajaan besar seperti Kalingga dan Tarumanegara di Jawa.

Pusat Pemerintahan Kerajaan Sriwijaya

Menurut isi Prasasti Kedukan Bukit , kedatuan Sriwijaya didirikan pertama kali di tepi Sungai Musi , Palembang (sekarang). Sementara itu , pada teori Palembang dengan tokoh pelopor bernama Coedes dan Pierre Yvs Manguin , mereka berpendapat bahwa selain Palembang ada daerah lain yang diduga sebagai pusa ibu kota kerajaan Sriwijaya seperti di Muara Takus dekat Sungai Kampar di Riau dan dekat Sungai Batanghari Muaro Jambi.

Penelitian tentang pusat kerajaan Sriwijaya pernah dilakukan oleh Pierre Yves Manguin melalui observasi yang dilakukan pada sekitar tahun 1993. Hasil penelitiannya yaitu pusat ibu kota Sriwijaya terletak di Provinsi Sumatera Selatan , tepatnya di Sungai Musi antara Sabokingking dan Bukit Seguntang. Lokasi tersebut sangat dekat dengan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya di Situs Karanganyar.

Kehidupan Politik Kerajaan Sriwijaya

Penguasa atau Raja di Kerajaan Sriwijaya disebu Maharaja atau Dapunta Hyang. Jabatan-jabatan lain dibawah raja seperti putra mahkota (Yuvaraja) , putra mahkota 2 (Pratiyuvaraja) dan pewaris-pewaris selanjutnya disebut (Rajakumara). Informasi terkait dengan kehidupan politik dapat kita ketahui dari isi prasasti Telaga Batu. Disitu dijelaskan mengenai struktur jabatan dalam pemerintahan Kerajaan Sriwijaya.

Selain berisi jabatan dalam struktur pemerintahan , diceritakan juga mengenai kutukan raja bagi yang menentangnya dan kehidupan sosial ekonomi berupa pekerjaan yang ada pada saat itu.